JAKARTA – Pemerintah terus memperluas jangkauan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh wilayah Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa jumlah penerima manfaat saat ini telah melampaui 60 juta orang. Namun, pemerintah masih memiliki tantangan besar dalam menyalurkan bantuan ke lingkungan pondok pesantren.
Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa cakupan program untuk sekolah dasar sudah sangat tinggi. Angka partisipasi siswa di sekolah umum rata-rata telah mencapai di atas 90 persen. Sebaliknya, angka penerima di lingkungan pesantren saat ini baru menyentuh angka 20 persen. Oleh karena itu, pemerintah akan melakukan pencocokan data ulang agar distribusi bantuan lebih merata.
Sinkronisasi Data Antar Kementerian
Ada perbedaan data yang cukup signifikan antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Agama. Kepala BGN Dadan Hindayana menyebutkan bahwa jangkauan di pesantren sebenarnya sudah mencapai 70 persen. Namun, data dari Kementerian Agama menunjukkan angka yang jauh lebih rendah. Masalah perbedaan data ini menjadi fokus utama pemerintah dalam rapat koordinasi terbaru.
Zulkifli Hasan menegaskan bahwa sinkronisasi data harus segera diselesaikan dalam waktu dekat. Hal ini sangat penting agar tidak ada santri yang terlewat dari program bantuan gizi tersebut. Selain itu, pemerintah ingin memastikan bahwa kualitas makanan yang sampai ke pesantren tetap terjaga dengan baik. Dengan data yang akurat, penyaluran logistik makanan akan menjadi jauh lebih efisien dan tepat sasaran.
Harapan Untuk Gizi Santri Di Indonesia
Program MBG merupakan investasi besar pemerintah untuk menciptakan generasi emas pada masa depan. Selain sekolah umum, pesantren memiliki peran yang sangat strategis dalam pendidikan karakter bangsa. Jadi, pemberian asupan gizi yang berkualitas bagi para santri adalah hal yang tidak bisa ditunda lagi. Pemerintah berkomitmen untuk terus menambah jumlah SPPG di area pondok pesantren secara bertahap.
BGN juga terus memantau standar nutrisi dalam setiap paket makanan yang dibagikan. Menu yang diberikan harus mengandung protein tinggi dan vitamin yang cukup bagi pertumbuhan remaja. Dadan Hindayana optimis bahwa target pemerataan program ini akan tercapai sebelum akhir tahun 2026. Dengan sinergi antar lembaga, diharapkan seluruh anak sekolah dan santri di Indonesia bisa mendapatkan hak gizi yang sama.





