BANDUNG — Dunia kemahasiswaan kembali diguncang isu sensitif terkait seksisme dan objektivikasi perempuan. Setelah kasus serupa mencuat di Universitas Indonesia, kini sorotan publik tertuju pada Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT ITB) menyusul viralnya video penampilan lagu berjudul “Erika” dalam sebuah kegiatan organisasi.
Video tersebut menuai kritik tajam di media sosial karena liriknya dinilai mengandung unsur seksis yang memosisikan perempuan hanya sebagai objek seksual. Hal ini dianggap sangat tidak pantas, terlebih dilakukan di lingkungan akademik yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai penghormatan terhadap individu.
Tradisi Lama yang Tak Lagi Relevan
Lagu “Erika” dikabarkan telah menjadi bagian dari tradisi internal HMT ITB sejak era 1980-an dan dinyanyikan lintas generasi tanpa hambatan berarti selama puluhan tahun. Namun, seiring meningkatnya kesadaran publik terhadap isu kesetaraan gender, konten tersebut kini dipandang sebagai bentuk pelecehan verbal. Banyak pihak menegaskan bahwa “tradisi” tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan yang merendahkan martabat perempuan.
Langkah Responsif dan Permohonan Maaf
Menanggapi polemik yang berkembang, HMT ITB mengeluarkan pernyataan resmi melalui akun Instagram @yudhabumi pada Rabu (15/4/2026). Mereka menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya atas kegaduhan yang ditimbulkan.
“Kami sangat memahami dan menyadari sensitivitas isu ini. Penggunaan lagu tersebut merupakan sebuah kelalaian, terutama karena kami tidak mempertimbangkan perkembangan norma sosial dan sensitivitas masyarakat saat ini,” tulis pernyataan tersebut.
HMT ITB menegaskan bahwa lirik lagu tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai organisasi. Sebagai bentuk tanggung jawab, pihak himpunan telah berkoordinasi untuk menurunkan seluruh konten terkait dari kanal resmi maupun akun individu yang terafiliasi.
Evaluasi Menyeluruh di Lingkungan Kampus
Ke depannya, HMT ITB berkomitmen melakukan evaluasi internal secara menyeluruh, mulai dari konten kegiatan hingga sistem pengawasan acara. Langkah ini diambil guna memastikan seluruh aktivitas organisasi selaras dengan nilai etika dan moral, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. Kasus ini menjadi momentum penting bagi organisasi kemahasiswaan lainnya untuk meninjau kembali tradisi mereka agar tetap relevan dengan standar etika modern.





