JAKARTA — Ada satu perubahan penting yang perlahan mengubah wajah lalu lintas di Indonesia. Jika sebelumnya keselamatan di jalan dipandang sebagai tanggung jawab penuh aparat kepolisian, kini peran tersebut mulai bergeser. Masyarakat, terutama dari kelompok dan komunitas pengguna jalan, ikut mengambil bagian sebagai aktor aktif.
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol. Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., sejak awal menegaskan bahwa pendekatan keselamatan tidak bisa lagi berjalan satu arah. Ia terus mendorong keterlibatan publik sebagai bagian dari strategi besar untuk menekan angka kecelakaan.
“Keselamatan di jalan tidak bisa dijaga sendiri oleh Polantas. Harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,” tegas Irjen Agus dalam berbagai kesempatan.
Pendekatan berbasis data yang presisi serta pelayanan humanis menjadi fondasi Polantas. Namun dalam praktiknya, strategi ini menjalar lebih jauh ke ruang sosial melalui pemberdayaan komunitas.
Komunitas Motor dan Ojek Online sebagai Agen Perubahan
Komunitas pengguna jalan saat ini tidak lagi sekadar menjadi objek penertiban, melainkan bagian dari solusi. Komunitas motor hingga ojek online memainkan peran penting dalam membangun budaya tertib berlalu lintas.
Di Kediri Kota, misalnya, Satlantas Polres Kediri Kota secara aktif menggelar edukasi safety riding kepada komunitas Kingshter. Kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi satu arah, melainkan membangun kesadaran kolektif bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab bersama. Anggota komunitas diajak memahami risiko di jalan sekaligus menjadi contoh teladan bagi pengendara lain.
Pendekatan serupa juga digencarkan di Bengkulu. Satlantas Polres Bengkulu menginisiasi berbagai program berbasis masyarakat yang menyasar komunitas lokal melalui pendekatan yang komunikatif dan partisipatif.
Edukasi Efektif Melalui Pendekatan Emosional
Pesan yang disampaikan oleh sesama anggota komunitas cenderung lebih mudah diterima daripada imbauan formal semata. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh Korlantas melalui program seperti Polantas Menyapa. Melalui “sentuhan lembut”, petugas membangun trust (kepercayaan) dan membentuk figur duta keselamatan di berbagai daerah.
Denyut perubahan ini menciptakan efek domino (domino effect). Komunitas yang telah mendapatkan edukasi mulai menerapkan disiplin berkendara dan menggunakan perlengkapan keselamatan standar. Secara tidak langsung, kebiasaan ini menular ke lingkungan sosial di sekitarnya.
Apa yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa keselamatan lalu lintas sedang memasuki fase co-creation. Polantas dan masyarakat tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bekerja bersama menciptakan sistem yang aman.
Pergeseran ini sangat penting, dari yang sebelumnya kepatuhan dipaksakan menjadi kesadaran yang tumbuh dari kebutuhan. Pada akhirnya, jalan yang aman adalah cerminan dari masyarakat yang saling menjaga.





